Ketika visi membentur batu karang . hemm . kalimat yang terdengar cukup filosofis bukan ? kalimat itulah yang saya baca dalam sebuah buku motivasi karya afifah afra , judulnya ‘…and the star is me !!’ , saya tertarik , ingin juga berbagi pada kawan2 semua .. jika pernah terbesit dalam hati kita pertanyaan seperti ini , “ketika visi kita membentur karang , haruskah kita mengubah visi tersebut ?” setidak-tidaknya , kita tau jawabannya ..
Pertama, memang sudah jamak jika idealita selalu tidak sama dengan realita. Ketidaksamaan itulah yang akan membuat seseorang kreatif , inovatif , dan bekerjakeras untuk –minimal—mendekatkan realita dengan idealita. Sebagai ilustrasi , suatu ketika kita mengidamkan memiliki rumah yang mungil namun indah dan nyaman. Nyatanya, ketika kita diberi kesempatan memiliki rumah, ternyata rumah itu hanya sebuah RSS tipe 21 yang kotor, dengan halaman penuh dengan semak belukar , cat terkelupas , kayu-kayu kusennya digerogoti sekerajaan rayap , gentingnya pecah-pecah , temboknya rapuh dan sebagainya . seseorang yang optimistis , tentu akan mengerahkan sgala daya upaya agar rumah yang jauh dari harapan itu bisa tersulap dengan bagus .
Jika pun kita belum berkesempatan memperbaikinya , paling tidak kita bisa mengupayakan merubah cara pandang kita terhadap rumah tersebut . kita bisa menghibur diri sendiri , bahwa zuhud itu indah . bahwa kesederhanaan itu lebih membuat hati terasa nyaman. Akan tetapi , jangan berhenti sampai disitu. kita harus terus berusaha stepbystep agar rumah yang menjadi idaman anda berhasil diwujudkan dalam tataran kenyataan .
Jadi , ketika visi kita seakan membentur batu karang sehingga sulit untuk direalisasikan, kita harus menanamkan pada diri sendiri , bahwa hidup memang perjuangan . yang harus kita perbaiki adalah strategi kita dalam menjalankan misi hidup kita . harus lebih keras lagi berjuang , harus lebih cepat lagi berjalan , lebih gagah lagi dalam melangkah , dan lebih prigel lagi dalam menyelesaikan masalah .
Kedua , harus juga direnungi bersama , apakah visi hidup kita yang ‘membentur batu karang’ tersebut merupakan visi yang benar2 keluar dari diri kita, yang sejalan dengan potensi—dan juga minat—kita . sebagian dari kita , barangkali adalah produk manipulasi dari orangtua. Ada orangtua yang memiliki dominasi sangat besar, mampu mempermak anak sedemikian rupa sehingga selalu tunduk dengan apa kata orangtua, tanpa mereka tau apa maksudnya. Tentu akan timbul gejolak. Kita menggugat visi hidup yang kita susun sendiri. Barangkali , kita menjadi frustasi .
Jika kita dihadapkan dalam situasi tersebut , langkah yang sebaiknya kita ambil adalah langkah awal , dimana kita harus menerima dan menjalankan visi tersebut dan meyakinkan diri kita , bahwa jika anda bisa lebih bermanfaat dan lebih produktif , kenapa tidak ? adalah suatu hal yang biasa jika sebuah keputusan besar selalu mengundang pro dan kontra . yang tepenting adalah anda harus siap menanggung resiko tersebut . karena diri anda adalah milik anda sendiri !
0 komentar:
Posting Komentar