Bicara tentang manusia, pasti ga akan ada habisnya. karena, Allah menciptakan kita dengan sifat, karakter, ciri2 fisik yang berbeda satu manusia dengan manusia lainnya. bahkan, anak kembar identik pun ga mungkin sama semuanya. hal terkecil, sidik jari . iya kan? nah, karena itulah muncul manusia-manusia kritis yang salalu 'ingin tahu'. seperti thales, plato, al-kindi, ibnu sina, thomas aquinas, john locke, alexander graham bell, thomas alfa edison, dan masih banyak lagi filsuf dan atau ilmuwan-ilmuwan yang berawal dari rasa ingin tahu akhirnya menemukan suatu ilmu baru, hebat kan? oke deh, kalo gitu dibawah ini saya akan mencoba menjelaskan darimana rasa ingin tahu itu hadir. let's check this out !
Guys, manusia, rasa ingin tahu, dan pengetahuan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. karena rasa ingin tahu adalah salah satu ciri khas dari manusia. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas pada apa yang ada di dirinya, juga karena rasa ingin tahu tentang lingkungan sekitar, bahkan sekarang ini rasa ingin tahu berkembang ke arah dunia luar. Rasa ingin tahu ini tidak dibatasi oleh peradaban. Semua manusia di dunia ini punya rasa ingin tahu walaupun kapasitasnya berbeda-beda. manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa-ingin-tahu-nya tidak tetap. Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa. Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia menerka sendiri jawabannya.
Auguste Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi(tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif(tahap ilmu). Dengan bertambah majunya alam pikiran dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambatlaun manusia berusaha mencari jawaban secara rasional. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif ialah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik simpulan yang bersifat khusus. Sedangkan penalaran induktif (empiris) ialah cara berpikir dengan menarik simpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus.
Karena himpunan pengetahuan yang diperoleh dari penalaran deduktif dan induktif tidak dapat diandalkan sebagai ilmu pengetahuan maka muncullah ilmu yang secara teoretis didapat dari pengamatan dan eksperimentasi terhadap gejala-gejala alam. Konsep itu disebut Ilmu Pengetahuan Alam.
Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya juga dapat bersifat sederhana dan juga dapat bersifat kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (ontologi), sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (epistemologi), serta untuk apa peristiwa tersebut dipelajari (aksiologi).
Ketiga landasan tadi merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan. Ketiga landasan ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha orang untuk dapat mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam atau lingkungan sekitarnya. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakan sebagai pengetahuan.
semoga bermanfaat^^
0 komentar:
Posting Komentar