Jumat, 15 Maret 2013

Terapi Psikoanalisa

Diposting oleh khdjhmrdhyh di Jumat, Maret 15, 2013
Nama: Khadijah Mardhiyah
Kelas: 3PA01
NPM: 13510875
MaKul: Psikoterapi

Dasar dari terapi psikoanalisis adalah konsep dari Sigmund Freud dan beberapa pengikutnya. Tujuan dari psikoanalisis adalah menyadarkan individu dari konflk yang tidak disadari serta mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan. Apabila motif dan rasa takut yang tidak disadari telah diketahui, maka hal-hal tersebut dapat diatasi dengan cara yang lebih rasional dan realistis.

Dalam bentuknya yang asli, terapi ini bersifat intensif dan panjang lebar, terapis dan klien umumnya bertemu selama 50 menit beberapa kali dalam seminggu sampai beberapa tahun. Oleh karena itu agar lebih efisien, maka pertemuan dapat dilakukan dengan pembatasan waktu dan penjadwalan waktu yang tidak terlalu sering.

Teknik-teknik dalam Psikoanalisis disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. kemajuan terapeutik diawali dari pembicaraan klien ke arah katarsis, pemahaman, hal-hal yang tidak disadari, sampai dengan tujuan pemahaman masalah-masalah intelektual dan emosional. Untuk itu diperlukan teknik-teknik dasar dalam terapi ini, seperti asosiasi bebas, penafsiran, analisis mimpi, resistensi, dan transferensi.

Asosiasi bebas merupakan teknik utama dalam Psikoanalisis. Terapi meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran. Cara yang khas adalah dengan mempersilahkan klien berbaring diatas balai-balai sementara terapis duduk dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasinya mengalir dengan bebas. Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan nama katarsis. Katarsis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment.

Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.

Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk memngungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak diselesaikan. Freud memandang bahwa mimpi merupakan 'jalan istimewa menuju ketidaksadaran', karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya dapat diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.

Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang di repres tersebut.

Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orangtua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang pengganti. Seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya.

Kelebihan dari terapi ini antara lain adalah teori dari terapi ini memiliki dasar yang kuat karena pada terapi ini klien akan dibawa ke 'masa lalu' dan akan membuat klien menyadari hal-hal yang selama ini berada di alam bawah sadarnya.

Adapun kekurangannya antara lain adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama sehingga biaya yang diperlukan juga cukup besar. Klien pun rentan akan merasa jenuh dalam masa-masa terapi nya karena waktu yang lama tersebut.

Sumber: Dwi Riyanti, BP & Prabowo, H. (1998). Seri Diktat Kuliah: Psikologi Umum 2. Gunadarma




0 komentar:

Posting Komentar

 

Kamar Cewek Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review