Kelas: 3PA01
NPM: 13510875
MaKul: Psikoterapi
Siapa tokoh-tokoh dibalik terapi humanistik eksistensial?
Tokoh-tokoh dari humanistik eksistensial antara lain adalah Ludwig Binswanger, Medard Boss, Abraham Malow, Carl H. Rogers, Victor Frankl, Holo May, Bagental, Irvin Yalom, Yourard dan Arbuckle.
Apa itu terapi humanistik eksistensial?
Terapi humanistik, seperti halnya filosofi humanisme yang melandasinya, didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah baik, dan bahwa orang hanya akan mengeluarkan perilaku yang buruk atau membuat masalah apabila mereka dipaksa oleh keterbatasan yang mengganggu. Dan dasar dari terapi ini adalah penekanan keunikan setiap individu yang memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam perwujudan dirinya. Dalam hal ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantu memecahkan masalahnya sendiri.
Maka dari itu, para terapis humanis ingin mengetahui bagaimana klien melihat situasi mereka sendiri secara subjektif, dan bagaimana mereka menginterpretasikan lingkungan mereka. Pada umumnya terapis humanis tidak menggali masa lalu klien mereka, melainkan akan memiliki focus pada usaha mengembangkan kehendak dan kepercayaan diri para klien untuk mengubah dan mencapai tujuan yang mereka miliki. Hal inilah yang menyebabkan para terapis meneliti apa yang terjadi “pada saat ini, disini” dan bukan pada isu-isu mengenai “mengapa dan bagaimana”.
Terapi ini membantu klien untuk mengetahui makna dari eksistensinya, dan membantu klien untuk dapat menghadapi pertanyaan utama dari eksistensi dengan penuh keberanian, seperti kematian, kebebasan, pengasingan dari diri sendiri maupun dari lingkungan, kesepian, serta ketidakbermaknaan. Para terapis eksistensial seperti halnya para terapis humanis, meyakini bahwa kehidupan kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh masa lalu kita, dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh situasi kita; kita memiliki kekuatan dan kehendak bebas untuk memilih takdir kita sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Irvin Yalom (1989), “langkah awal yang krusial dari sebuah terapi adalah asumsi dari tanggung jawab yang dimiliki klien atas keadaan-keadaan sulit yang menimpa dirinya. Selama seseorang meyakini bahwa masalah-masalah yang menimpa dirinya disebabkan oleh suatu kekuatan atau suatu kewenangan yang berada diluar kendalinya maka terapi tidak akan dapat membantu orang tersebut.”
Yalom mengatakan bahwa tujuan dari terapi adalah membantu klien dalam menghadapi kenyataan-kenyataan dalam kehidupan dan kematian yang tidak terhindarkan, serta membantu klien dalam memperjuangkan makna. Yalom meyakini bahwa pengalaman kita yang terburuk sekalipun mengandung bibit-bibit kebijaksanaan dan penebusan. Salah satu contoh paling luar biasa mengenai keberhasilan pencarian seseorang akan bibit-bibit kebijaksanaan ditanah yang tandus adalah Victor Frankl (1905-1997), yang telah mengembangkan suatu jenis terapi eksistensial, setelah ia berhasil selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Saat ia sedang berada dalam kamp konsentrasi tersebut, Frankl (1995) memperhatikan bahwa beberapa orang berhasil mempertahankan kewarasan mereka karena mereka mampu menemukan makna yang terdapat pada pengalaman tersebut, meskipun pengalaman tersebut merupakan pengalaman terburuk yang pernah mereka alami.
Beberapa peneliti meyakini bahwa sebenarnya, semua jenis terapi merupakan terapi eksistensial. Melalui cara yang berbeda-beda, semua terapi membantu orang-orang untuk menentukan apa yang penting bagi mereka, nilai-nilai apa saja yang menjadi penuntun dalam kehidupan mereka, dan perubahan-perubahan apa yang akan mereka lakukan. Terapi-terapi eksistensial mungkin dapat membantu Murray memikirkan signifikansi dari tindakan penundaan yang ia lakukan, apa saja hal-hal yang menjadi tujuan utama dalam hidupnya, dan bagaimana ia dapat menemukan kekuatan untuk mencapai ambisi-ambisi yang ia miliki.
Kekurangan dari pandangan ini?
Salah satu kritik terhadap psikologi eksistensial adalah ketika psikologi telah diperjuangkan untuk dapat membebaskan diri dari dominasi filsafat, justru psikologi eksistensial secara terang-terangan menyatakan kemuakkannya terhadap positivisme dan determinisme. Para psikolog di Amerika yang telah memperjuangkan kemerdekaan psikologi dari filsafat jelas menentang keras segala bentuk hubungan baru dengan filsafat. Banyak psikolog merasa bahwa psikologi eksistensial mencerminkan suatu pemutusan yang mengerikan dengan jajaran ilmu pengetahuan, karena itu membahayakan kedudukan ilmu psikologi yang telah diperjuangkan dengan begitu susah payah.
Salah satu konsep eksistensial yang paling ditentang oleh kalangan psikologi “ilmiah” ialah kebebasan individu untuk menjadi menurut apa yang diinginkannya. Jika benar, maka konsep ini sudah pasti meruntuhkan validitas psikologi yang berpangkal pada konsepsi tentang tingkah laku yang sangat deterministic. Karena jika manusia benar-benar bebas menentukan eksistensinya, maka seluruh prediksi dan control akan menjadi mustahil dan nilai eksperimen menjadi sangat terbatas. (Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner, 1993)
Lalu, apa kelebihannya?
Humanistik eksistensial membuat seseorang merefleksikan hidupnya sehingga orang tersebut mengenali banyaknya pilihan dan dapat menentukan pilihannya sendiri sehingga seseorang akan bertanggung jawab untuk tiap pilihan dan tindakan mereka.
Sumber:
http://www.psychologymania.com/2011/09/psikologi-eksistensial.html (diakses 23 Maret 2013)
Wade, C., Tavris, C. 2007. Psikologi Jilid 2. Edisi Kesembilan. Alih Bahasa: Padang Mursalin, M.Psi & Dinastuti, M.Psi. Jakarta: Erlangga
0 komentar:
Posting Komentar