“Allah itu Maha Adil, dan dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya ..” hufft , kalimat itu kali ini benar2 membuat saya terenyuh . bagaimana tidak, ditengah para manusia yang mengumpat dan mengeluh tentang kondisi cuaca yg kian hari kian buruk itu, ada pula yang mendapatkan keberkahan dan bersyukur didalamnya. Ya, para adik2 kecil penjual jasa ojeg payung itulah yang saya maksud.
Hampir setiap sore depok diguyur hujan deras, dan hampir setiap sore juga saya selalu pulang dalam keadaan basahkuyup. Ditengah2 hujan deras itulah, sosok2 kecil namun luarbiasa kuat, berdiri memakai payung yang kadang ukurannya 3x lebih besar daripada tubuhnya seakan2 menantang hujan. Mereka tersenyum, tertawa, betapa mereka menikmati semuanya. Sambil beberapa kali terlihat berlari menghampiri para pejalan kaki yang kehujanan, menawarkan payung mereka. ada yang menerimanya, tidak sedikit pula yang menolaknya, ada pula yang sama sekali tak meliriknya. Pun mereka tidak mematok tarif untuk jasanya, “seikhlasnya kakak aja,” bgitu jawab seorang anak laki2 kecil yang memegang sebuah payung yang luarbiasa besar dan berat untuk anak seusianya ketika dalam suatu kesempatan saya berniat memakai jasanya, menyebrang dari detos kedepan margocity utk naik angkot menuju terminal L . Nyoooss. Hati saya meleleh, ingin rasanya menangis saat itu juga, betapa hebatnya seorang adik kecil dihadapanku ini ..
Saya tersenyum, menerima payung besar dari tangannya. saya mulai berjalan, awalnya saya pikir kami akan berjalan beriringan. Setidaknya ia ikut dalam payung besar yang saya sewa. “dek, sini aja payungnya besar kok..” ajakku ketika ia malah hujan2an dibelakangku. Ia terlihat kaget, lalu tersenyum malu2. “enggak kak, kakak aja” saya langsung merangkulnya untuk berada disisiku. “udah gapapa, nanti sakit lagi.” Saya tersenyum miris. Ya Allah, anak sekecil ini sudah mencari uang? Malu saya pada diri saya sendiri..
“namanya siapa dek?” tanyaku. “akbar, kak.”
“sekolah ga? Kelas berapa?” rasanya saya benar2 jatuh hati pada adik kecil ini. “iya kak, kelas dua.” Yaampuun, ini mah seumur azzam. Bisikku dalam hati. Langsung teringat pd adikku dirumah. Yang untuk jajan aja masih minta sambil jejeritan kalau ga dikasih. Huhuuhuhuu ..
Akhirnya sampai juga saya dibawah jembatan penyebrangan. Huuhh. Saya mengeluarkan selembar dua ribu dengan ragu. Mau gak ya adik ini menerima ongkos dua ribu? Sedangkan dalam dompet saya sudah tak ada lagi uang kecil. Dengan takut saya mengulurkan uang itu dihadapannya, kalaupun nanti dia bilang kurang saya sudah bersiap utk menukarkan uang saya sehingga recehnya pun akan banyak lagi. Ia terdiam sesaat saat melihat uang yang saya sodorkan. Mengambilnya dengan ragu. “knapa dek ? kurang ya?” ia menggeleng. “saya ga ada kembaliannya kak,” bgitu jawab mulut polosnya. Saya terperangah, innalillah, adik kecil ini malah mau ngasi kembalian? Aku buru2 menggeleng. “ga usah dek, buat adek aja..” ia kaget “bener kak?” aku mengangguk. Ia mengembangkan bibirnya lebaaarr sekali. “makasih kak, makasih..” ia langsung berlari menghampiri teman2nya sambil memperlihatkan dua ribu yang saya berikan. Saat itu, hati saya benar2 sesak. Benar2 merasa bahwa ternyata banyak yang belum saya syukuri dalam kehidupan saya saat ini. Saya yang begitu bnyak mengeluh, marah, bahkan menggugat Tuhan dengan sgala mcam pertanyaan2 bodoh . Ckckckck . betapa Allah itu ternyata maha adil terhadap hamba2Nya , Betapa Ia menyayangi seluruh HambaNya , TANPA TERKECUALI , subhanallah , maafin diyah , Rabb .
Saya benar2 merasa sedang diajak untuk ‘berpikir’ bahwa ternyata anak sekecil itu sudah bisa bersikap lebih dewasa daripada saya . malunyaaa . hehe . dan, yang terpenting adalah bahwa saya baru saja mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari seorang adik kecil penjaja ojeg payung. Terimakasih dek J
Depok, 19 oktober2010.
0 komentar:
Posting Komentar